Tuesday, 2 September 2008

All about Miramar

Taipei, 2 September 2008

Miramar adalah keindahan, Miramar adalah ketenteraman, Miramar is beauty. Kata "Miramar" selintas mirip dengan nama telenovela yang pernah ngetop di televisi-televisi Indonesia pertengahan tahun 90-an dulu. Well, arti sebenarnya memang indah. "Miramar" adalah bahasa spanyol yang berarti pemandangan lautan (sea-view/sea sight). Banyak kota di pinggir lautan yang mengambil nama Miramar, khususnya di negeri-negeri berbahasa Spanyol. Yang paling terkenal mungkin adalah kota Miramar yang menjadi bagian di propinsi Buenos Aires, kota wisata terkenal di Argentina.

Miramar juga adalah salah satu judul novel yang terkenal dari penulis terkenal Mesir, Naguib Mahfouz, yang meraih hadiah Nobel Sastra di tahun 1988. Wow ... Miramar is a beauty isn't it ??

Tapi kali ini saya ingin menceritakan Miramar yang lainnya. Yakni Miramar Entertainment Park. Salah satu tempat hiburan didi distrik Neihu, di Jingye Road Taipei City. Tidak jauh dari distrik Neihu tempat lokasi Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. Cukup mudah dan murah sekali untuk kesana. Dari Taipei Main Station, kita cukup mengambil MRT arah Danshui, kemudian turun di stasiun Jiantan. Sesudah itu, kita bisa menunggu shuttle bus gratis antara Miramar dan stasiun MRT Jiantan.

In front of Miramar


Ada 3 hal yang menjadi daya tarik di Miramar. Pertama adalah lokasinya yang terletak didaerah distrik pinggiran kota. Diapit oleh sungai Keelung dan juga perbukitan di sekelilingnya, Miramar adalah contoh taman hiburan yang cukup asri dan memiliki pemandangan yang indah. Kita bisa menikmati secangkir kopi atau es krim disini sambil menikmati udara segar.

Kedua adalah bioskopnya yang terkenal dan juga merupakan bioskop terbesar di Taipei, bahkan di Taiwan. Pertama kali saya menonton disini adalah film "Beowulf" yang ditayangkan secara 3 dimensi pada layar yang lebar, mungkin satu setengah kalinya layar Platinum di Margo City. Mantap !!!!!!!!!

Dan terakhir tentu saja adalah taman hiburan Miramar. Memang sih jika dibandingkan dengan taman hiburan konvensional, wahana yang ada di Miramar tidak terlalu banyak. Tetapi ada satu keunggulan Taman Hiburan Miramar, yakni Ferris Wheel alias Bianglalanya yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Dari sini kita bisa melihat pemandangan Taipei dengan indah. Bianglalanya juga memiliki kecepatan yang cukup pelan sehingga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk lebih menikmati pemandangan yang ada. Ferris Wheel atau bianglala ini mungkin salah satu wahana sudah cukup terkenal di berbagai taman hiburan di dunia. Di Dunia Fantasi Ancol juga ada. Oleh karena itu banyak taman hiburan di berbagai negara mencoba berbagai keunikan, salah satunya adalah membuat bianglala tertinggi di dunia. Lihat saja "London Eye", bianglala yang terkenal di kota London. Bianglala yang tertinggi sendiri sampai sekarang masih dalam tahap pembangunan, yakni Beijing Great Wheel yang akan dibangun di Beijing. Rencananya Bianglala ini tingginya akan mencapai 208 meter. Ferris Wheel Miramar sendiri mencapai 70 meter, tapi itu masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan bianglala Dufan he...he....

Di dalam Ferris Wheel Miramar nih

Di dalam Ferris Wheel, dengan latar belakang kota Taipei

Di salah satu sudut kota, diambil dari Ferris Wheel. Indah ya


Oh ya, untuk naik Ferris Wheel ini tidak gratis he...he... Kita harus membeli tiket sebesar NT$ 150 dulu untuk menikmatinya. Tidak terlalu murah memang, tapi juga tidak terlalu mahal. Lumayan untuk menikmati keindahan salah satu bianglala terbaik di Taiwan. Fiuh, benar-benar pengalaman menarik bisa mengunjungi bianglala yang satu ini. Miramar is really a beauty.

- Ma Fu Yue -

Wednesday, 27 August 2008

Indonesia's Central Java UNESCO World Heritage Sites

Taipei, 27 Agustus 2008


Tidak ada yang lebih menyenangkan saat liburan musim panas selain mengunjungi obyek-obyek wisata terkenal di Indonesia. Hitung-hitung mengisi kemerdekaan dengan mengenang keindahan obyek wisata kita sekaligus menggalakkan dunia pariwisata.

Kali ini saya ingin bercerita tentang UNESCO World Heritage Sites (WHS) alias situs warisan dunia yang ada di Indonesia. WHS ini adalah tempat-tempat yang dianggap UNESCO sebagai situs budaya dan pariwisata yang bersejarah sehingga harus dilindungi. Konon status ini adalah status tertinggi bagi tempat-tempat pariwisata yang ada di dunia. Sidang UNESCO untuk WHS pada 2008 ini sendiri baru saja berlangsung Juli kemarin di Quebec, Kanada.

Sebenarnya kalau para pengamat pariwisata jeli sih, WHS ini cukup menjadi isu juga belakangan. Lihat saja bagaimana hubungan Thailand - Kamboja memanas saat kuil Preah Vihear dimasukkan sebagai WHS. Kuil Preah Vihear sendiri masuk wilayah Kamboja, tetapi Thailand mengklaim juga sebagai milik mereka.

Atau bagaimana Malaysia akhirnya berbangga karena 8 tahun pengembangan pariwisata mereka dengan Visit Malaysia Year-nya berhasil dengan diabadikannya Bandar Malaka dan George Town Penang sebagai WHS. Ini adalah situs ke-3 di Malaysia yang jadi WHS.

Sebenarnya sih Indonesia masih menjadi negara yang paling banyak memiliki WHS di Asia Tenggara. Kita Punya 7 situs. Thailand, Vietnam, dan Filipina hanya punya 5, sedangkan Kamboja malah baru 2. Sebenarnya kita patut berbangga diri, tetapi tentu harus dibarengi dengan usaha menjaga situs-situs yang ada dan menggalakkan pariwisata kita.

Nah dari 7 situs WHS di Indonesia tersebut, 3 diantaranya berada di propinsi Jawa Tengah. Kesanalah saya pergi dalam liburan yang cukup singkat kemarin. 3 situs itu masing-masing adalah Candi Borobudur di kota Magelang, Candi Prambanan di perbatasan kota Klaten dan propinsi DI Yogyakarta, serta situs arkeologi Sangiran di perbatasan Solo dan Sragen.

3 situs dalam 2 hari. Luar biasa melelahkan, tapi juga menyenangkan. Untuk Borobudur dan Prambanan mungkin tidak perlu diceritakan panjang lebar. Hampir semua orang di Indonesia bahkan di dunia sudah mengenal dua candi ini. Landmark Indonesia yang tidak bisa dicuri oleh siapapun di dunia.

Sebenarnya sih aku sudah pernah ke Borobudur sekali, waktu SMA dulu. Sedangkan ke Prambanan belum pernah sama sekali. Tapi ini pertama kalinya aku bisa mengunjungi keduanya sekaligus, dan saat aku tahu bahwa keduanya termasuk dalam WHS tentu saja ini menjadi lebih menyenangkan lagi.

In front of Prambanan Temple

Kuil Dewa Siwa Prambanan, indah ya

Sunset in Prambanan

In front of Borobudur Temple

Di stupa induk Borobudur

Di salah satu stupa Borobudur

Ada dua hal yang mengesankan bagiku mengenai kedua candi ini. Pertama tentu saja adalah penggambaran kerukunan umat beragama yang ada. Candi Prambanan adalah candi Hindu sementara candi Borobudur adalah candi Buddha. Dua agama yang berbeda, namun kedua candi berada di wilayah yang sama. Suatu bukti kerukunan dan toleransi beragama yang cukup tinggi bukan, yang mungkin saat ini sudah mulai terkikis. Kedua khusus tentang candi Prambanan. Kalau ada yang mungkin iseng membaca legenda candi Prambanan, mungkin tahu tentang kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang yang menjadi latar pembangunan candi Prambanan ini. Alkisah Bandung Bondowoso berniat untuk melamar Roro Jonggrang untuk menjadi prabu dari dinasti Syailendra. Roro Jonggrang pun memberikan syarat yang cukup berat, dia meminta Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam. Itu kenapa Prambanan diberi nama juga candi Sewu.

Rupanya Bandung Bondowoso sendiri rupanya bukan orang sembarangan, dia memiliki kemampuan mistis yang luar biasa. Dia pun menyanggupi syarat yang diberikan Roro Jonggrang. Maka saat malam tiba, Bandung Bondowoso memanggil pasukan jin-nya untuk membantu membangun 1000 candi yang disyaratkan tersebut.

Roro Jonggrang yang sedari awal memang ingin menolak lamaran Bandung Bondowoso akhirnya melakukan hal yang tidak diduga. Dia memanggil para pembantunya untuk membakar sekam dan juga untuk membunyikan alu yang menjadi alat menumbuk padi sehingga seolah-olah fajar telah tiba dan pagi akan segera menjelang. Pasukan jin Bandung Bondowoso yang hanya bisa bekerja sebelum fajar menyingsing pun akhirnya pergi. Padahal pada waktu itu belum juga fajar, akhirnya Bandung Bondowoso pun menyelesaikan candi tersebut dengan kekuatannya sendiri. Saat pagi tiba setelah dihitung, rupanya candi yang telah dibuat Bandung Bondowoso hanya kurang 1 saja alias dia telah membuat 999 candi dalam semalam. Namun karena yang disyaratkan adalah 1000 candi, maka tetap saja lamarannya ditolak oleh Roro Jonggrang. Dalam murkanya, Bandung Bondowoso mengutuk kehancuran kerajaan Syailendra dan Mataram Hindu yang akhirnya kemudian terjadi saat Majapahit meluluh lantakkan Mataram Hindu.

Hmm.....sad ending sih. Cuman kalau ditilik dari sisi ekonomi, jujur Roro Jonggrang itu gak tahu diri. Orang dah capek-capek bikin candi yang walaupun kurang satu dari maunya dia, tapi tetap banyak lho. 999 candi !!! Emangnya si Roro Jonggrang bisa apa ??? Paling gak coba kerja kerasnya dihargai sedikit. Huh.....matre juga tuh Roro Jonggrang.

Tapi sangat disayangkan kedua candi ini saat ini mulai digerus zaman. Sudah muncul retak-retak di sana sini. Beberapa diantaranya dipicu oleh gempa bumi yang melanda Jawa Tengah dan Yogyakarta tahun 2006 lalu. Syukur usaha perbaikan masih dilakukan terus. Semoga bisa berjalan dengan baik, dan semoga Borobudur dan Prambanan bisa terus berdiri kokoh.

Renovasi salah satu candi di Prambanan

Aku lebih tertarik untuk bercerita mengenai situs Sangiran. Entah ada yang ingat atau tidak, sebenarnya Sangiran sudah disebut dalam buku-buku pelajaran sejarah SMA tentang prasejarah dan kepurbakalaan.

Sangiran sebenarnya adalah nama dua dusun yang terletak diantara kabupaten Sragen dan Karanganyar di Jawa Tengah. Tempat ini merupakan situs arkeologi yang terluas di dunia (mencapai kurang lebih 56 km persegi) dan diperkirakan dihuni oleh manusia purba sejak lebih dari satu juta tahun, jauh lebih lama dari situs arkeologi serupa di tempat lain. Inilah mengapa situs Sangiran menjadi cukup berharga.

Sebenarnya sudah lama Sangiran menjadi tempat para arkeolog meneliti mengenai manusia purba dan juga tentang peradaban masa lalu. Penelitian paling awal dirintis oleh arkeolog Belanda bernama Eugene Dubois yang melakukan penggalian di daerah ini sekitar tahun 1893. Sayangnya dia tidak menemukan apa yang dia cari. Baru pada tahun 1930-an, arkeolog Belanda yang lain yang bernama von Koenigswald menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus & Meganthropus Palaeojavanicus yang kemudian terkenal itu. Barulah kemudian menyusul penemuan fosil-fosil purbakala lainnya di daerah Sangiran. Selama perang dunia II, von Koenigswald menghadapi saat terberatnya saat berusaha mempertahankan fosil-fosil Sangiran dari ancaman sitaan tentara Jepang. Untunglah fosil tersebut berhasil diselamatkan sampai saat ini.

Museum Sangiran yang sekarang berada tidak jauh dari lokasi ekskavasi dahulu, digunakan untuk menampung fosil-fosil yang ditemukan di wilayah Sangiran. Museumnya sangat sederhana bahkan terkesan reyot dari luar. Memang keterpencilan lokasi museum ini membuatnya hampir tidak dikenal orang. Untunglah usaha publikasi dan perbaikan serta renovasi bangunan sudah dimulai. Semoga bisa menjadi museum kepurbakalaan yang menarik nantinya.

Di depan Museum Purbakala Sangiran

Diorama manusia purba di Museum Purbakala Sangiran

Fosil gading gajah Mammoth yang mencapai 5 meter lebih

Percaya gak, ini rahang kuda nil ????

Beberapa fosil kerang yang ditemukan di Sangiran

Disinilah kita bisa melihat kekayaan arkeologis Indonesia. Selain fosil-fosil manusia purba, kita juga bisa melihat fosil lainnya semisal fosil gading gajah Mammoth yang panjangnya mencapai 5 meter lebih, atau fosil kepala kerbau purba yang tanduknya juga cukup panjang. Ada dua fosil yang cukup menarik bagi saya disini. Pertama adalah fosil rahang kuda nil yang ditemukan di Sangiran. Menarik karena seperti kita ketahui, kuda nil memiliki habitat asli di wilayah Afrika. Akan tetapi fosil kuda nil yang mencapai ribuan tahun ini ditemukan di wilayah Sangiran. Mungkinkah dahulu ada kuda nil yang hidup di Sangiran ???

Yang kedua adalah fosil kerang laut yang juga banyak ditemukan di Sangiran. Tidak hanya fosil kerang, ada juga fosil gigi ikan hiu yang dipamerkan disini. Fosil-fosil hewan laut ini membuat para arkeolog berhipotesis bahwa daerah Sangiran dahulu merupakan wilayah lautan. Luar biasa sekali kekayaan arkeologis Indonesia.

Inilah beberapa keunggulan situs Sangiran sehingga pemerintah pun mengajukannya ke UNESCO sebagai World Heritage Site. Dalam sidang UNESCO tahun 1996 di Merida, Mexico, akhirnya Sangiran resmi dijadikan WHS dengan nama Sangiran Early Man Site. Jadilah sangiran menjadi situs WHS kelima Indonesia saat itu menyusul Borobudur, Prambanan, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Komodo yang sudah menjadi WHS sebelumnya. Barulah kemudian menyusul Taman National Lorentz di tahun 1999 dan terakhir sistem hutan hujan tropis Indonesia di Sumatra yang merupakan gabungan Taman Nasional Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan yang menjadi WHS ke-7 Indonesia di tahun 2004.

Sayangnya walaupun tergolong tempat penting dan juga WHS, situs Sangiran jarang sekali dikunjungi orang. Mungkin hanya mereka yang sedang menggeluti dunia arkeologi atau sejarah yang tertarik mendatangi situs ini. Pernah pengunjung museum Sangiran mencapai 250.000 orang per tahun. Sayang pasca krisis moneter yang melanda Indonesia di era 90-an, pengunjung Sangiran pun menurun tajam. Hal ini antara lain disebabkan oleh terpencilnya lokasi situs yang memang terletak di daerah pedesaan dan kurangnya publikasi yang diberikan pemerintah untuk menarik orang mengunjungi tempat ini. Semoga pengembangan situs Sangiran ke depan bisa berjalan baik untuk menunjukkan kekayaan bumi Indonesia di bidang sejarah dan arkeologi.

Ahh....benar-benar perjalanan yang berharga mengunjungi 3 situs WHS di Jawa Tengah ini. Satu-satunya yang tidak mengenakkan adalah aku harus menggunakan kereta ekonomi ke Yogyakarta terlebih dahulu sebelum mengunjungi ketiga situs ini, sangat tidak nyaman. Tapi ini terbayar dengan kepuasan yang tidak ada taranya setelah mengunjungi ketiga tempat ini. Mungkin karena ini pertama kalinya bagiku mengunjungi situs warisan dunia, dan aku langsung mengunjungi 3 tempat, dan juga ini adalah situs yang ada di Indonesia sehingga merupakan kebanggaan negeriku. Puas tiada taranya.

Cuman tetap saja ada satu hal yang aku sendiri heran setiap kali aku bepergian. Walaupun aku doyan backpacking, namun aku tidak pernah mau mengunjungi situs yang sudah pernah aku kunjungi sebelumnya. Apalagi jika aku sudah memiliki dokumentasi sebelumnya. Hmm..... cukup sekali perjalanan, dan cukup sekali untuk menikmatinya. Well.... itulah aku.

Anyway, sudah puas banget berlibur. Saatnya kembali nih ke tugas yang kurasa banyak terlantar. Dalam 7 bulan kemarin aku sudah mengunjungi 6 flagship sites Taiwan dan 3 World Heritage Site Indonesia. Luar biasa sih, tapi memang sedikit mengorbankan konsentrasiku di kuliah. Aku harus ingat untuk fokus pada tesisku. Saatnya memindahkan fokus. Dan backpacking ??? tentu saja terus berlanjut. Cuman lebih dikendalikan, tidak brutal dalam melakukannya. Tetapi fokus dan dinikmati. Mungkin dari situ aku akan memahami cara menikmati perjalanan yang selama ini aku cari, dan juga mungkin aku akan menemukan dimana hatiku tertambat dan dimanakah situs pariwisata yang tidak akan pernah bosan aku kunjungi. Salam backpackers.


- M. Rizki Ramadhani -

Tuesday, 8 July 2008

Alishan (阿里山) yang indah .........

Taipei, 8 Juli 2008


Seperti janji saya sebelumnya, saya akan menceritakan perjalanan saya ke salah satu tempat wisata terbaik di Taiwan. Alishan (阿里山). Alishan ... alishan ....alishan .......

Alishan adalah salah satu dari 8 flagship sites (situs wisata unggulan Taiwan) yang terletak di daerah Chiayi di tengah Taiwan, yang dijuluki kota persik ( Peach City). Dari segi nama, Alishan berarti gunung Ali dalam bahasa Cina. Ada dua asal kata dari nama Alishan. Pertama kata Alishan berasal dari kata Jarissang, nama yang berasal dari bahasa aborigin lokal bagi tempat ini. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa nama Alishan berasal dari A-Ba-Li, dia adalah salah satu kepala suku aborigin yang pertama kali menjelajah daerah ini dan kemudian membangun pemukiman aborigin disini. Nama A-Ba-Li kemudian disingkat menjadi A-Li, yang menjadi asal nama Alishan sekarang.

Terlalu banyak keindahan dan hal-hal menarik mengenai Alishan. Yang pertama dan paling terkenal mungkin adalah Alishan Mountain Railway Forest atau Kereta Gunung Alishan. Alishan adalah salah satu dari hanya 3 kereta gunung yang tersisa di dunia saat ini. Dua lagi adalah Darjiling di India serta Semmering Railway di Austria. Menaiki kereta api Alishan merupakan pengalaman yang cukup menegangkan. Maklum kereta yang digunakan adalah kereta disesel kuno yang membuat kita kembali ke zaman kolonial dulu saat kereta api diesel ini banyak digunakan. Selama perjalanan juga, kita akan menembus pegunungan dan hutan-hutan Alishan yang masih liar dan indah. Total kereta gunung Alishan akan membawa kita dari ketinggian kurang lebih 20 m diatas permukaan laut di Chiayi menuju kota Alishan yang terletak di ketinggian 2400 m diatas permukaan laut.

Menunggu kereta nih... di stasiun Alishan

Tiba di stasiun Alishan, dengan latar belakang kereta gunung Alishan

Selama di perjalanan, kita bisa melihat indahnya pegunungan Alishan dan hutan-hutan di sekitarnya. Selama perjalanan juga kita akan melewati beberapa stasiun transit yang juga cukup terkenal, semisal stasiun Fencihu dimana kita bisa menikmati nasi kotak (Bian Dang) khas Fencihu, atau di Shueishiliao yang merupakan tempat perkebunan teh persis seperti di daerah Puncak, Jawa Barat.

Sawah terhampar di sepanjang jalan ke Alishan

Pegunungan tertutup kabut di Alishan


Kereta gunung Alishan ini dibangun pada awalnya oleh pemerintahan Jepang di Taiwan pada tahun 1912. Tujuan awalnya adalah untuk mengangkut kayu-kayu dari hutan mengingat pada awalnya pegunungan Alishan dijadikan daerah penebangan kayu untuk keperluan industri saat itu. Saat perang dunia II berakhir tahun 1945, pemerintah Taiwan merasa perlu melindungi daerah ini. Sehingga aktivitas penebangan hutan disini pun dihentikan. Sejak saat itu, Alishan menjadi daerah konservasi dan kereta gunung yang sebelumnya menjadi sarana pengangkutan kayu kemudian diubah menjadi alat transportasi wisatawan. Berbeda dari kereta api kebanyakan di Taiwan yang dikelola oleh departemen perkeretaapian, kereta gunung Alishan dikelola oleh departemen kehutaman (Department of Forestry). Mungkin karena kereta gunung ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hutan lindung Alishan sehingga benar-benar dilindungi.

Perjalanan naik ke Alishan menggunakan kereta memang sangat disukai oleh para wisatawan. Selain karena lebih memudahkan untuk menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan, juga karena kesan bersejarah dari kereta gunung Alishan yang merupakan salah satu dari 3 kereta gunung tersisa ini. Hanya saja sebenarnya menggunakan kereta cukup lama dan kurang nyaman. Total butuh 4 jam dari stasiun Chiayi ke stasiun Alishan yang merupakan stasiun stasiun terakhir. Kereta gunung yang digunakan juga kereta diesel tahun 50-an jadi bisa dibayangkan sendiri kenyamanannya jika dibandingkan kereta eksekutif jaman sekarang. Jalur kereta ke atas juga ada yang amblas di beberapa tempat mengingat Alishan adalah tempat yang rutin diguyur air hujan, sehingga terus diperbaiki. Tahun 2004, pernah terjadi kecelakaan di tempat ini yang merenggut 17 nyawa. Namun setelah itu pemerintah Taiwan mencoba meningkatkan keamanan kereta sehingga kecelakaan yang sama tidak pernah terjadi lagi.

Sebenarnya Alishan sangat potensial untuk menjadi situs warisan dunia (World Heritage Site), mengingat 2 situs kereta gunung lainnya yakni Darjeeling dan Semmering sudah menjadi World Heritage Site. Hanya saja Taiwan masih terkendala pada pengakuan luar negerinya, sehingga untuk menjadi WHS yang merupakan situs resmi PBB masih sulit dalam waktu dekat ini.

Setelah melalui 4 jam perjalanan melelahkan, tibalah kita di tujuan utama kita. Alishan National Recreation Area. Tidak terkatakan uniknya tempat ini. Alishan mungkin adalah kebalikan dari pantai Kenting di selatan Taiwan. Jika Kenting selalu panas walaupun di musim dingin, maka Alishan sebaliknya, selalu dingin walaupun di musim panas. Suhu di tempat ini tidak pernah lebih tinggi dari 20 derajat celcius. Di musim dingin, salju biasa turun disini. Tempat ini benar-benar mirip resort pegunungan khas Swiss. Ditambah lagi pegunungan alamnya yang sangat indah dipandang serta daerah konsevasi di sekitar Alishan yang menjamin keasrian lokasi wisata ini.

Satu lagi keunikan Alishan adalah Alishan merupakan tempat salah satu suku aborigin asli Taiwan yakni suku Tsou (Tsou tribe). Suku Tsou inilah yang pertama kali mendiami wilayah Alishan sebelum berubah menjadi terkenal seperti sekarang.
Di welcoming board Alishan

Di alun-alun Alishan

Sebenarnya Alishan pun tidak kuno-kunoa banget. Kita bisa menemukan toko kelontong macam 7 eleven disini. Ada juga beberapa bangunan unik di sini semisal Alishan Visitor Center yang sangat sederhana tapi cukup banyak menjelaskan mengenai sejarah Alishan, kemudian juga ada kantor pos Alishan yang bergaya kuil Buddha dan merupakan kantor pos yang tertinggi dari permukaan laut di seluruh Taiwan.

Datang ke Alishan berarti sudah siap untuk bermalam minimal sehari disini. Bukan apa-apa, transportasi memang cukup sulit disini. Kereta hanya ada sekali sehari setiap jam 13.00 yang akan membawa penumpang naik dan turun, sedangkan shuttle bus menuju Chiayi hanya tersedia sampai jam 5 sore. Jadi memang kita harus merencanakan penginapan dengan baik.


Inside Alishan Visitor Center


Saat puncaknya liburan, daerah hotel di Alishan bisa sangat penuh. Selain itu harga hotelnya pun terbilang cukup mahal. Bagi para backpackers, bisa menemukan alternatif dengan cara menginap di rumah penduduk. Biasanya penduduk lokal Alishan sudah menyulap rumahnya sehingga bisa dijadikan sebagai kos-kosan tempat menginap. Jika kamar kelas ekonomi di hotel yang ada di Alishan bisa memakan harga minimal 2500 NT, menginap di rumah penduduk bisa hanya menghabiskan 1000 NT tergantung dari cara kita menawar.

Karena saya baru sampai di Alishan pada pukul 5 sore, maka sudah terlalu telat untuk bis jalan-jalan di sekitar hutan. Jadilah acara hari pertama cuma dihabiskan untuk cari penginapan dan belanja oleh. Alhamdulillah dibanding di pusat aborigin Pingtung, oleh-oleh kerjainan tangan aborigin Taiwan disini lumayan murah. Satu pengalaman menarik saya disini adalah saya bertemu dengan seorang TKW asal Subang yang rupanya sudah bekerja di Alishan selama 3 tahun. Luar biasa. Bahkan di salah satu perbukitan tertinggi di Taiwan pun saya bisa temukan orang Indonesia. Benar-benar bangsaku tercinta, bangsa perantau dan pekerja keras. Hal yang positif sebenarnya, cuman kita selalu beranggapan bahwa menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) adalah hal yang rendah. Dan juga perlindungan pemerintah terhadap mereka juga setengah-setengah. Padahal mereka adalah penghasil devisa terbesar Indonesia. Dasar nih pemerintah kita .... Tapi yah ambil baiknya, minimal saya dapat diskon yang lumayan untuk membeli souvenir karena dibantu oleh si mbak sehingga cukup banyak yang bisa saya borong balik ke Taipei.

Baru deh di pagi harinya, kita mulai acara jalan-jalan menikmati pegunungan ini. Untuk menikmati Alishan, maka kita harus bangun pagi-pagi sekali. Karena salah satu pemandangan unik di Alishan adalah pemandangan matahari terbit di balik gunung yang sangat indah. Alhamdulillah karena sudah terbiasa bangun subuh, maka saya tidak kesulitan untuk mengejar jadwal matahari terbit yang pada hari senin kemarin sekitar pukul 05.25 pagi. Cuma untuk menikmati pemandangan matahari terbit ini, kita mesti berjalan dulu sekitar 15 menit ke tempat pengamatan (Viewing Lot). Ada dua viewing lot yang bisa kita gunakan. Pertama adalah viewing lot di Jhaoping trail yang lumayan jauh, dan ada juga Chushan Footpath yang terletak persis ti pinggir rel kereta api. Disana kita bisa melihat matahari terbit dari balik gunung Yushan (Jade Mountain), gunung tertinggi di seluruh Asia Timur. Bagi saya pribadi, benar-benar pengalaman berharga bisa melihat sunrise di Alishan kemarin.

Beautiful sunset on Alishan over the Jade Mountain


Baru deh setelah kita menikmati sunrise, kemudian kita bisa menikmati suasana hutan lindung sekitar Alishan. Sayangnya di bagian ini baterai kamera saya sudah habis (T_T), jadi hanya sedikit dokumentasi yang bisa saya dapatkan. Anyway, hutan Alishan rata-rata diisi ileh pohon cypress merah (red cypress) khas Taiwan. Ini adalah jenis pohon yang hanya tumbuh di daerah subtropis macam Taiwan. Ada 2 alur hutan (tree trail) yang bisa kita tempuh. Disana kita bisa melihat beberapa pohon cypress besar dengan ketinggian mencapai 28 meter lebih dan usia yang tidak kurang dari 800 tahun. Jadi pohon-pohon ini sudah ada sebelum Taiwan dihuni oleh masyarakat Cina dan didatangi bangsa Eropa. Luar biasa. Beberapa pohon bahkan ada yang dianggap suci oleh suku aborigin sehingga sangat dilindungi. Bangsa Jepang bahkan meninggalkan sebuah pagoda yang dinamakan Pagoda of Tree Spirit (Pagoda Roh Pohon). Karena orang-orang Jepang percaya bahwa dalam setiap benda terkandung roh. Pohon juga termasuk. Karena saat pendudukan Jepang di Taiwan dulu banyak pohon-pohon Alishan yang ditebang, maka mereka membangun pagoda ini sebagai bentuk permohonan maaf kepada sang roh pohon karena telah ditebang.

Kita juga bisa menemukan Sister Ponds. Dua danau kecil yang terletak di tengah hutan. Menurut legenda, dulu ada dua orang saudara perempuan suku aborigin yang mencintai pria yang sama. Mereka tidak ingin saling menyakiti saudarinya yang lain, tapi juga tidak mau kehilangan sang pujaan hati. Maka sebagai gantinya, mereka menceburkan dirinya ke danau. Ada dua danau disana, danau yang besar dinamakan the elder sister dan yang lebih kecil dinamakan the younger sister.

Beberapa bunga Magnolia masih ada yang bermekaran di Alishan walaupun sudah masuk musim panas. Suasana bunga ini benar-benar menambah indah Alishan. Saya tidak menyesal kesini walaupun kata orang lebih enak ke Alishan di awal musim semi. Lagipula walaupun sudah musim panas seperti ini, Alishan tetap saja ramai dikunjungi orang. Benar-benar pengalaman yang berharga dan indah.

Sebagai penutup, ada oleh-oleh foto dari sebuah pohon cypress yang unik. Pohon ini dinamakan Elephant Trunk. Aslinya ini adalah akar pohon cypress tua yang sudah tumbang, namun kalau dilihat sekilas memang mirip dengan wajah seekor gajah. Bisakah anda melihatnya ??? Ha...ha... salam dari Alishan.

Elephant Trunk Tree, mirip gak dengan muka gajah ????


- Rizki -

Monday, 7 July 2008

Alhamdulillah berhasil ................(^_^)

Taipei, 8 Juli 2008

Semester 2 mungkin adalah semester paling berat menurutku. Banyak faktor penyebabnya. Kuliah di semester ini memang berat. 4 kuliah, dengan 3 diantaranya adalah kuliah programming yang menyita waktu. Semester ini juga adalah puncak-puncaknya aktivitas kemahasiswaan. FORMMIT yang muktamar bulan April lalu plus beberapa kegiatan yang digeber di awal, Lomba Kreativitas Anak Negeri 2008 yang juga cukup menyita perhatian, Youth Enterpreneurship Forum yang membuat aku sering keluar kota, plus lagi orang-orang yang kalau mau ke Taipei dan harus menginap mesti diurusin juga, fiuhhh............................. berat berat berat !!!!!!

Dan aku pun merasa semester ini aku kebanyakan jalan-jalan. Plus juga kayaknya banyakan nonton sepakbola yang kebanyakan diakhiri dengan kekalahan tim favoritku (T_T). Aduhhh........ berantakan banget sepertinya yah perencanaan bulan ini.

Tapi Alhamdulillah semua itu bisa berjalan dengan baik (^_^). Yup.... aku baru saja mendapatkan cukup banyak berita baik. Pertama tentu saja adalah perjalanan backpacking yang cukup menyenangkan di Kaohsiung dan Alishan kemarin. Menyenangkan sekali. Cukup banyak tempat yang aku kunjungi di Kaohsiung, dan menyenangkan sekali bisa dapat teman-teman baru. Perjalanan ke Alishan juga sangat menyenangkan. Senang sekali bisa mengunjungi daerah pegunungan tertinggi di Taiwan yang mirip daerah Puncak di Taiwan atau daerah Aspen di Amerika Serikat. Aku akan tulis tentang perjalanan ke kedua tempat ini nanti.

Tapi yang paling penting adalah ......... nilai kuliahku semester ini telah keluar semua, dan semuanya sukses (^_^). Alhamdulillah. Jujur aku membutuhkan nilai rata-rata 85 semester ini agar bisa melanjutkan Ph. D. dengan lancar. Dengan skala aktivitas yang cukup berat aku sebenarnya khawatir jika target ini tidak tercapai. Tapi Alhamdulillah tercapai juga (^_^), total kuliahku semester ini adalah :

1. Computer Simulations --> 75 points
2. Digital Image Processing --> 87 points
3. Nanoscience --> 89 points
4. Photon Scattering --> 91 points

Dengan demikian, nilai rata-rataku adalah 85.5 (^_^). Alhamdulillah berhasil juga di tengah masa-masa berat ini. Aku jadi lega. Memang sih nilai rata-rataku turun dari semester 1 yang sebesar 92.25, tapi paling tidak masih di ambang batas minimum. Dan yang lebih penting lagi adalah, seluruh kewajiban kuliahku sebanyak 24 kredit telah selesai semester ini. Jadi aku bisa fokus ke tesis mulai semester depan.

Total selama 6 bulan berat ini terhitung aku telah mengambil kuliah dengan total 12 sks dan rata-rata nilai 75.5, berkunjung ke 5 flagship Taiwan mulai dari Pantai Kenting di liburan musim dingin awal Februari terus berturut-turut National Palace Museum, Taroko, dan 2 yang baru saja adalah Love River dan Alishan. Ditambah dengan Taipei 101 yang sudah aku kunjungi di semester 1, aku sudah mengungjungi total 6 flagship sites Taiwan. Wow, he....he...... Ditambah lagi aku jadi Ketua Panitia Lomba Kreativitas Anak Negeri (LKAN) FORMMIT Utaratu yang berlangsung satu setengah bulan kemarin serta menjadi duta Summer Camp NKUFST di Kaohsiung minggu lalu. Fiuh.... berat, melelahkan, tapi paling tidak berakhir dengan baik.

Ah .... saatnya ke asal. Ke tugas utama. Back to lab. Lot of things to improve in my mind.

Kau sudah punya perjalanan yang indah anak muda. Sekarang saatnya semangat dan lebih disiplin. Keep fighting !!!!!!!!



- Rizki (^_^) -

Monday, 23 June 2008

News today ..........

Taipei, 24 Juni 2008

OK, kembali ke kehidupan normal setelah "kehancuran" Italia di Euro 2008. Well, mungkin sejujurnya memang Italia tidak berjodoh di piala Eropa. Dan puasa gelar 40 tahun yang diraih terakhir tahun 1968 harus dilanjutkan kembali. Tapi paling tidak ada pukulan untuk introspeksi menuju piala dunia Afrika Selatan 2010 nanti. Sekarang jadi bingung. Sejujurnya aku pribadi lebih memilih Turki untuk juara berikutnya. Tapi istri dan adikku mendukung Jerman, jadi sepertinya aku memilih memundurkan diri (mungkin untuk selamanya) sebagai komentator piala Eropa.

Semoga ini menjadi tanda Azzuri bisa bangkit meraih emas Olimpiade Cina 2008 ini.

Anyway kembali ke lab, kondisi tidak cukup baik sih. Masih ada presentasi ujian computer simulation yang harus diselesaikan. Dan programku masih belum bisa dicompile. Bakal begadang malam ini sepertinya. Dan aku baru sadar kalau aku sedang mengidap Narcolepsy. Penyakit dimana sulit tidur di malam hari tetapi akan jatuh tidur pada waktu-waktu tertentu di siang hari. Mungkin ini akumulasi begadang yang tidak teratur. Ah...jadi menyesal juga begadang banyak kemarin apalagi akhirnya kalah juga. Keberentungan sepakbolaku saat ini yang paling sial sepertinya. UEFA Champions League 2008 Moscow & Euro 2008 Swiss - Austria benar-benar sial. Tidak seperti Piala Dunia Jerman 2006 dan UEFA Champions League Final 2007 Athens.

Tapi sekali lagi, ambil baiknya...ambil baiknya....ambil baiknya. Kuliah dah selesai semua, dan masih ada waktu untuk mengejar tugas sekaligus melupakan hingar bingar lapangan hijau.

Kupikir aku akan ke Sun Moon Lake hari kamis ini. Lumayan untuk refreshing dan melupakan semuanya.


And may the earth tremble its centers
at the resounding roar of the cannon!


- Rizki -

Sunday, 22 June 2008

Just keep smile

Sudahlah .....
Angkat kepalamu wahai prajurit

Kau kalah ....
Namun masih membanggakan
Malam ini memang tak pantas kau lolos
Dan kita tak harus selalu berharap Dewi Fortuna seorang

Sudahlah .....
Tersenyumlah ....
Ini memang pahit
Tapi memang Eropa bukan,
Dan tidak akan pernah menjadi tempatu

Mungkin dunialah tempatmu
Lupakan benua biru
Ke Afrika, arahkanlah pandanganmu
Kau masih sang juara dunia

Tapi buktikanlah
Sejarah sudah melawanmu
Kalah dari Belanda untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir
Kalah dari Spanyol untuk pertama kalinya dalam 88 tahun terakhir

Tinggal bukti yang ditunggu
Pada beban gelar juara dunia itu
Sebelum lagu kemenangan kami kubur .........





Sad smile ......

Friday, 20 June 2008

The Battle of Vienna

Taipei, 21 Juni 2008


Sudah lebih dari 3.5 abad berlalu, saat tentara Turki Utsmani menyerbu kota Vienna. Hari itu di tahun 1683, pasukan Kara Mustapha Pasha berhadapan dengan Holy League di gerbang masuk kota Vienna. Itulah sejarah Battle of Vienna yang terkenal. Pertempuran Vienna, lakon pertempuran hebat dalam sejarah Turki Utsmani.

Sejarah mengatakan bahwa kekaisaran Turki Utsmani kalah pada hari itu. Walaupun menurut saya, tidak ada yang menang. Memang kota Vienna tidak jatuh ke tangan Turki dan tetap dipegang oleh Holy Roman Empire. Tapi sejak pertempuran itu berakhir, gerbang timur kota Vienna tidak pernah dibuka lagi. Karena tanah diluar gerbang itu sudah dikuasai oleh tentara Turki sampai jatuhnya dinasti Utsmani.

Dan tadi malam, akhirnya para tentara Turki kembali. Mereka kembali ke kota yang 3.5 abad lalu gagal ditaklukkan oleh nenek moyang mereka. Malam ini mereka tunjukkan keberanian dan semangat pantang menyerah tentara Janissari yang terkenal itu. Tidak dalam pertempuran, tapi dalam pertandingan di lapangan hijau.

Kroasia tumbang, dan Vienna ditaklukkan oleh Turki. Euro 2008 memang belum selesai. Dan lawan yang sangat berat sudah menunggu di semifinal. Tetapi hari ini biarlah terkenang, sebagai hari saat tentara Turki menaklukkan kota yang dulu gagal ditaklukkan nenek moyang mereka. Inilah bukti keyakinan masih ada, saat seluruh suporter Turki berdoa di masjid raya Vienna saat sholat Jumat untuk kemenangan Turki sebelum pertandingan. Dan Eropa pastilah akan "was-was" dengan kekuatan baru sepakbola Turki (^_^).

Mungkin benar adanya. Dewi Fortuna adalah pelindung Italia. Tapi Allah-lah yang akan melindungi Turki.

Seribu penghormatan, kepada "The King of Comeback" di Euro 2008. Satu tempat di semifinal, memang pantas untuk Turki.

Sholat Jumat di Masjid Raya Vienna sebelum pertandingan

Suporter sekaligus akhwat (^_^)

Ekspresi kemenangan Turki pasca adu penalti

Dan anak cucu para Sultan Turki Utsmani kembali untuk menguasai Vienna